Sang Komandan Regu

Mukhayyam kali ini (27-29 mei 2011) amat berkesan dari yang sebelum-sebelumnya. Betapa tidak, aku ditakdirkan satu regu dengan para qiyadah dakwah dan beberapa saudara seperjuangan dari pelosok daerah. Regu kami berjumlah sepuluh orang. Ada ustadz Masykur Sarmian (ketua DPW PKS Kaltim), ustadz Ahmad Abdullah (ketua DSW PKS Kaltim), ustadz Umar Faruk (ketua DPD PKS Balikpapan), akh Ikhwan dari DPC Kotabangun Kukar, akh Turmudzi Kukar, akh Saiful Bontang, akh Sulthon Berau, ustadz Nurdin Ismail Samboja kukar, akh Muzakir dari Samarinda, dan aku sendiri dari DPD Balikpapan. Memang mukhayam kali ini regu-regu diacak dari berbagai daerah agar bisa saling taaruf.

Dalam satu kesempatan tiba-tiba saja ustadz Masykur menunjukku menjadi komandan regu. Aku terkesiap. Bagaimana mungkin seorang muda seperti aku memimpin semua anggota regu yang lebih tua dariku? Mengomandani para masyaikh? Aku tak sanggup berkata-kata. Aku hanya mengulum senyum menelan ludah. Aku pangku amanah ini dengan perasaan tak menentu.
Aku sangat bersyukur regu kami termasuk regu yang stabil, solid dan kuat. Meski sebagian mereka sudah berumur lebih dari empat puluhan tahun. Diam-diam aku memanfaatkan kesempatan ini untuk mencoba mengenal dan mempererat ukhuwah bersama anggota regu. Terutama dengan para masyaikh.

Saat acara inti masuk ke hutan untuk aktivitas solo survival, semua peserta tidak diperkenankan membawa perlengkapan selain: ransel, jas hujan, matras, pisau, korek api, garam dapur, botol kosong serta pakaian yang melekat di badan. Selama dua puluh empat jam kami harus melewati waktu hanya dengan perbekalan tersebut. Betapa para peserta dituntut kejujurannya untuk sportif menaati peraturan ini. Ada saja beberapa yang tertangkap membawa makanan saat ransel dirazia oleh panitia.

Ketika berada di dalam hutan setelah berjalan kurang lebih satu jam, kami diperintahkan untuk memasang tenda bifak (jas hujan). Solo bifak minimal berjarak lima meter antara satu bifak dengan yang lainnya. Saat itu peserta beristirahat sambil mencari makanan untuk menu makan siang. Kebanyakan para peserta memanfaatkan untuk tidur, karena semalam kurang tidur akibat kegiatan silent operation dalam acara kalau tidak salah disebut “mubaghotah” (semacam operasi inteligen menyusup dan menaklukan kekuatan musuh di ring satunya). Aku sendiri tertidur pulas karena semalaman tidak tidur sebagai konsekuensi seorang komandan regu.

Aku terbangun ketika sayup-sayup mendengar untaian ayat al-qur’an bersahutan keluar dari lisan para peserta yang soleh-soleh. Ada yang tilawah dan ada yang muraja’ah. Mereka mengisi waktu dengan menyetor amalan yaumiyah kepada Rabb-Nya. Perlahan aku mendengar suara merdu nan syahdu dari ketua DSW Kaltim ustadz Abdullah memurajaah hafalannya. Alunan suaranya sangat menggetarkan hatiku. Aku hendak menangis mendengar beliau melantunkan ayat-ayat alqur’an. Beliau termasuk yang paling sering kudengar murajaah. Aku beranjak bangun dan duduk. Aku merasakan aliran energy yang begitu menyegarkan. Mungkin aku hanya tidur satu jam siang itu. Kesegaran itu merupakan anugerah dari Allah.

Aku terpekur mengucapkan hamdalah dan puji-pujian kepada Nya atas nikmat ini. Betapa tidak, aku dibangunkan oleh untaian ayat qur’an yang dibacakan oleh para mujahid dakwah. Mungkin jin-jin hutan Bangkirai saat itu semuanya lari terbirit-birit dan terkentut-kentut. Aku membereskan ranselku yang kubuat bantal. Betapa terkejutnya aku, di bawah ranselku ada seekor lintah mengendap-endap licik. Mungkin dia sudah ngiler untuk menghisap darahku. Bau keringatku yang sudah tengik karena tak berganti pakaian sejak hari pertama membuat lintah itu amat bernafsu padaku. Ia berjalan sambil menekuk-nekuk tubuhnya naik turun membuat pola gelombang pulsa. Aih menjijikannya binatang satu ini. Tapi Allah lebih sayang padaku daripada lintah ini. Aku dibangunkan-Nya sebelum lintah itu menghisap bahkan menjilat kulitku. Kuambil pisauku dan kubunuh dia.

Perutku agak lapar sedikit dan waktu sudah menjelang dzuhur. Aku pergi ke tepi sungai hendak mengambil air wudhu. Saat selesai wudhu, aku melihat bayangan kecil bercapit di tepi sungai. Subhanallah, Allah swt yang maha penyayang itu mengirimiku seekor udang batu. Tanpa menunggu lama kutangkap udang sebesar ujung kelingking itu. Lalu udang itu kutusuk dengan ujung pisauku. Siap dibakar. Tak lupa kuiisi botolku dengan air sungai untuk bekal minum.Bakda dzuhur sekaligus jamak ashar, kuambil korek api dan kubakarlah udang tadi. Masya Allah begitu nikmatnya. Meskipun kecil, namun cukup mengenyangkan. Alhamdulillah.

Tak lama aku mendengar ustadz Masykur murajaah juga. Aku pun mencoba murajaah surah Al-Qolam. Tak lama lokasi kami digeser lagi. Namun masih di sekitar sungai. Untaian Al-qur’an masih membahana di hutan bangkirai. Entah apa yang terjadi di alam jin sana. Mungkin semacam gempa bumi barangkali. Atau mudah-mudahan ada jin yang masuk islam setelah mendengar surah Al-Ahqaf.

Suasana sore menjadikan perut mulai terasa lapar lagi. Ustadz Masykur, ustadz Abdullah dan Ustadz Nurdin adalah sosok-sosok yang pandai menghibur. Mereka banyak sekali bahan-bahan joke. Aku tak henti mereka buat tertawa melupakan lapar. Luar biasa ukhuwah yang kurasakan dalam keakraban itu. Meski aku bukan orang jawa, namun aku bisa mengerti banyolan-banyolan mereka yang berbahasa jawa kocak. Aku kadang terpingkal-pingkal menikmati OVJ (Opera van Java) versi mereka. Andai acara haflah jadi dilaksanakan, rasanya tak sulit dengan aktor-aktor macam mereka ini. Subhanallah.

Sore itu aku berpikir bagaimana caranya menangkap ikan yang dari tadi meloncat-loncat di permukaan sungai. Aku ingin membuat kail. Aku ingat aku membawa jarum dan benang. Namun jarumnya patah saat akan kubentuk kail. Lalu aku mencoba meraut bambu untuk membuat bubu. Namun gagal karena skillku tak memadai. Aku tertegun mendengarkan tasbih serangga hutan. Tiba-tiba aku punya ide. Kuambil pegas pulpenku dan kubentuk menyerupai kail. Kuikat pada seutas tali nilon pengikat tenda akh Muzakir. Aku potong sebatang bambu untuk tantaran (tongkat) pancing. Setelah mendapatkan cacing untuk umpan, aku mulai memancing. Dan olala, Aku mendapatkan beberapa ikan seluang (semacam teri tapi di sungai). Kubakar dan kumakan bersama Ustadz Masykur. Alhamdulillah. Kemudian aku memancing lagi bersama Ustadz Umar Faruk, Alhamdulillah dapat lumayan sehingga bisa membuat dua bungkus pepes ikan. Maka nikmat Tuhanmu yang mana lagi yang kau dustakan.

Malamnya kami murajaah lagi. Ustadz nurdin memurajaah juz dua puluh delapan. Aku dan ustadz Umar menyimaknya dibalik kegelapan malam. Malam yang amat mengesankan. Namun aku tiga kali pindah posisi karena ancaman semut hutan dan lintah. Ustadz Masykur pun diserang oleh pasukan semut itu sehingga juga harus bergeser posisi. Ustadz Abdullah punya cara cerdik mengecoh semut-semut itu. Ia nyalakan senter di suatu titik agak jauh dari matrasnya, rupanya semut-semut itu bergerombol mengelilingi cahaya senter. Ustadz Abdullah bisa tidur nyenyak.
Setiap hendak bergeser lokasi camping, panitia menyalakan mercon berdentuman. Dalam hitungan sepuluh semua peserta harus sudah berbaris di poros jalan. Betapa kami merasakan sempoyongan berjalan karena terkejut dibangunkan saat sedang nyenyak tidur. Jika telat ke poros jalan, hukumannya push up. Tak peduli qiyadah setinggi apa pun hukuman ini harus ditegakkan. Namun para ikhwah adalah ksatria-kstaria sejati yang sportif, tak ada yang membantah panitia. Ini adalah sebuah pelajaran penting tentang konsistensi sistem kita dalam mengontrol jamaah. Luar biasa.

Menjelang subuh kami Qiyamul Lail di pinggiran jalan lokasi pepohonan Akasia. Saat fajar ustadz Umar azan subuh. Kami shalat subuh dipimpin oleh ketua DSW Ustadz Abdullah. Ia membaca surah Al-Qolam dalam dua rakaat. Sekali lagi aku bergetar terbawa alunan suara merdunya nan syahdu. Tak peduli panjangnya bacaan. Sungguh nikmat shalat di belakang beliau subuh itu. Aku lupa dengan kepenatan kakiku. Semua energy mengalir ke kepalaku dan menyesak ke kantung airmata. Melesakkan tetesan-tetesan airmata membasahi pipiku. Airmataku mengalir bersama embun membasahi bumi hutan Bangkirai. Acara shalat ini dilanjutkan dengan membaca wirid Al-Ma’tsurat Qubro dipimpin ustadz Abdullah. Nun di pepohonan, aneka burung dan binatang hutan lainnya pun bergemuruh bertasbih memuji Allah Azza wa Jalla meminta karunia dan rizkinya hari ini. Sungguh suasana alam yang begitu menggetarkan.

Pagi harinya, di persinggahan terakhir, kami habiskan waktu menikmati Opera Van Java trio Ustadz. Bahkan Ustadz Umar sempat menggubah lagu kuch kuch hotahai dalam bahasa jawa yang menjadi trade mark Opera Van Java hutan Bangkirai itu. Sungguh rasanya aku masih tahan survival dua hari lagi bersama regu ini. Hahaha…

Saat tiba kembali di Wisma Bukit Bangkirai disambut Ustadz Cahya Zailani instruktur dari DPP beserta para panitia. Kami disalami. Karena reguku regu satu, maka menjadi yang pertama tiba. Sudah tersedia roti bungkus dan teh panas di titik finish ini. Masya Allah, nikmatnya seperti orang yang berbuka puasa. Kami kemudian melaksanakan upacara penutupan yang sangat khidmat. Ditandai dengan penyampaian taujih dari para qiyadah, kesan-pesan para wakil peserta dan penyematan slayer simbolis. Ustadz Arif Kurniawan dari Samarinda adalah peserta terbaik tahun ini. Beliau sangat kreatif dalam survival. Beliau membuat jala ikan dari kain sari dalaman jaketnya. Banyak sekali udang dan ikan yang ia dapatkan. Bahkan beliau rela memunguti sampah-sampah di hutan, menyimpannya di ranselnya dan membuangnya di tempat sampah di Wisma. Beliau adalah seorang aktivis lingkungan sejati dalam pandangan saya.

Upacara diakhiri dengan saling bersalaman dan berpelukan sambil melantunkan nasyid kepanduan “Bingkai Kehidupan”. Usai upacara, pesta terakhir menikmati menu gulai kambing yang disediakan panitia. The last Lunch yang luar biasa. Jazakumullah khairan katsiro kepada panitia. Nikmat sekali gulainya. Jika seperti ini mukhayam dua kali setahun aku siap saja.

Selanjutnya adalah acara menelepon istri masing-masing sambil menunggu jemputan datang. Rindu rasanya setelah tiga hari miskin sinyal dan lost contact dengan anak bini. Peserta satu-persatu pulang meninggalkan bukit Bangkirai. Grup Balikpapan adalah yang terakhir dijemput.
Saya ucapkan puji syukur yang berlimpah kepada Allah swt atas nikmatnya ukhuwah seperti ini. Rasanya sulit ditemukan yang semacam ini di komunitas lain. Bertemu dan berjumpa dalam mahabbah ilallah.

Allahumma ya Allah tsabit qulubuna ‘ala diinika wa tho’atika. Amin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *