TAAT AD/ART DAN TAAT QIYADAH HARGA MATI

1. Qiyadah yg terpilih dalam Musyawarah Majlis Syuro sesuai dengan AD/ART adalah qiyadah yang syah. Wajib kita taati dan kita hormati. AD/ART adalah pegangan kita dalam berorganisasi. Adalah penuntun agar arah organisasi tidak melenceng, tidak dibelokkan dan diselewengkan.

2. Tanpa ketaatan kepada AD/ART, Partai akan menjadi kendaraan ambisi pribadi-pribadi yang memiliki kekuasaan dan jabatan. Tanpa ketaatan kepada AD/ART, organisasi akan kehilangan soliditas dan kondusifitas. Karenanya qiyadah dan jundiyah semuanya harus taat kepada AD/ART Partai. Dan itu harga mati.

3. Kita semua tentu setuju dengan 2 point di atas. Untuk itu mari kita coba cek sejauh mana ketaatan dan kedisiplinan kita kepada AD/ART Partai. Kita jadikan studi kasusnya masalah Fahri.

4. Pertama, sesuai dengan penjelasan Fahri, KMS memintanya mundur dari pimipinan DPR itu adalah permintaan pribadi. Bukan keputusan resmi Organisasi. Hal ini diperkuat kesaksian di bawah sumpah Untung Wahono yang menjabat sebagai sekertaris DPTP pada sidang Pengadilan Negeri Jaksel, tgl 3 Oktober 2016. bahwa tidak ada pembahasan dalam rapat DPTP yang memutuskan penggantian Fahri dari pimpinan DPR.

5. Tidak adanya rapat DPTP yg memutuskan penggantian Fahri sebagai wakil ketua DPR, melanggar Anggaran Dasar Partai pasal 15 ayat 5) huruf d. dan c. tentang kewenangan DPTP (sebagai lembaga bukan individu) dalam merekomendasikan kader yang menjabat pada jabatan strategis lembaga negara seperti DPR. Ini jelas merupakan pelanggaran AD/ART Partai.

6. Kedua, ketika Fahri mencari keadilan dan mengadukan pemecatan dirinya ke Pengadilan Negeri Jaksel, Qiyadah PKS menolak rame-rame. Kata MSI: “masalah internal kok dibawa ke pengadilan umum, ini jelas tidak benar”. Ucapan seperti ini sering beliau ucapkan di hadapan kader dan media. “Sebagaimana ditegaskan dalam pedoman partai, Keputusan Majlis Tahkim itu final dan mengikat. Tidak bisa dirubah oleh Pengadilan Umum kecuali oleh Majlis Tahkim Sendiri” kata HNW. Benarkah ini?

7. Mari kita lihat Anggaran Dasar Partai pasal 27, pasal tentang Penghargaan dan Penjatuhan sanksi, pada ayat 5) berbunyi: ​“Ketentuan lebih lanjut berkenaan dengan penjatuhan sanksi diatur dengan Pedoman Partai”.

8. Kemudian lihatlah Pedoman Partai, yaitu pasal 21 Pedoman No. 1 tahun 2015, tentang Pemberian Penghargaan dan Penjatuhan Sanksi “Penjatuhan Ta’dib sebagaimana dimaksud dalam Pasal 17, tidak menutup kemungkinan bagi teradu dan/atau pihak lain untuk mengajukan penyelesaian perkaranya melalui jalur hukum sesuai dengan peraturan perundang-undangan.”

9. Jelaslah bahwa apa yang dilakukan Fahri dengan mengajukan penyelesaian perkaranya ke jalur hukum yang sesuai dengan peraturan perundang-undangan adalah bentuk ketaatan pada AD/ART dan Pedoman (peraturan) Partai.

10. Sedangkan qiyadah dan kader yang menolak penyelesaian masalah melalui jalur hukum Pengadilan Negeri pertanda mereka tidak membaca peraturan partainya sendiri. Ini adalah pelanggaran AD/ART Partai.

11. Ketiga, ketika Fahri menang dalam Kasasi yang artinya keputusan sudah inkcracht dan Qiyadah menolak hasil kasasi tersebut, banyak kader yang mengatakan pilih taat dan tsiqah kepada Qiyadah. Apakah taat qiyadah dalam hal ini sesuai dengan AD/ART?

12. Dalam AD/ART PKS hanya dikenal kata taat itu untuk taat AD/ART dan Peraturan Partai. Dalam AD/ART PKS hanya 2 kali disebutkan kata “taat” (“taat” dan “menaati”). Semuanya tidak ada yg terkait dengan taat Qiyadah.

13. Lihatlah Anggarat Rumah Tangga pasal 6 ayat 3): “Setiap Anggota wajib taat dan berpegang teguh kepada Anggaran Dasar, Anggaran Rumah Tangga, dan peraturan Partai”.

14. Lihat juga Anggaran Rumah Tangga pasal 9 ttg persyaratan Anggota Majlis Syuro : “menguasai, memahami, menaati, dan berpegang teguh kepada Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga, Putusan Majelis Syura, Putusan Musyawarah Nasional, serta peraturan dan kebijakan Partai”.

15. Dalam pasal 6 ayat 1) yang memuat teks ikrar janji setiap anggota, memang ada istilah “setia kepada Pimpinan Partai” tetapi didahului dengan : “berjanji senantia berpegang teguh kepada AD/ART dan Peraturan Partai, …..”. Ini Artinya kesetiaan kepada Pimpinan Partai dalam kerangka ketaatan mereka kepada AD/ART dan Peraturan Partai.

16. Jelaslah bahwa menaati Qiyadah yang tidak taat kepada AD/ART dan Peraturan Partai adalah pelanggaran terhadap AD/ART itu sendiri.

17. Saudaraku, janganlah kecintaanmu kepada Gurumu dan penghormatanmu kepada Qiyadah membutakan mata-hatimu dari melihat realita yang jelas-jelas ada kesalahan dan pelanggaran AD/ART. Janganlah menganggap mereka tidak mungkin salah. Mereka manusia biasa yang juga punya hajat dan bisa bersiasat.

18. Saudaraku, janganlah kebencianmu kepada Fahri membuatmu menolak kebenaran. Lihatlah masalah ini dengan hati yang jernih dan nalar yang sehat.

19. Saudaraku, janganlah kamu menerima AD/ART bila sesuai dengan seleramu dan menolaknya bila bertentangan dengan hawa nafsu. Janganlah menjadi seperti yang disebutkan dalam Q.S 2/85 (Apakah kamu beriman kepada sebahagian Al Kitab dan ingkar terhadap sebahagian yang lain?)

Semoga bermanfaat. End.

(Tim Kajian AD/ART PKS)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *