Sebuah Jawaban

1. Konflik yg terjadi di DPP berawal dr ikhtilaful fikriy (perbedaan pendapat) ttg cara (metodologi/manhaj) dalam merespon berbagai persoalan besar yang di hadapi harokah dakwah ini untuk mencapai setiap tahapan dakwahnya.

2. Terutama setelah harokah ini memasuki tahapan tahrirul wathan (merebut posisi2 kekuasaan negara) dan ishlahul hukumah (mengelola dan membenahi pemerintahan).

3. Dalam kedua tahap ini kelembagaan politik harokah dakwah di setiap negara termasuk Indonesia menghadapi realitas ketidak siapan sistem atau cara (manhaj).

4. Itulah azmah manhajiyah (krisi manhaj) yg memaksa kader2 harokah melakukan ijtihad fikriyah masing2 sesuai kapasitasnya dan uruf (kondisi) negara mereka masing2.

5. Ijtihad yg berbeda2 dan bahkan antar sesama Pemimpin Harokah di suatu negara dalam membuat manhaj amaliyah (pediman kerja) ini menjadi sumber perbedaan pendapat yg tajam dan berujung pada konflik yg terbuka dlm organisasi harokah di setiap negara sep Sudan, Turki, Tunisia, Mesir, Malaysia, Indonesia, Aljazair, dll.

6. Knp terjadi krisis Manhaj? Krn Muassis Dakwah ini (Imam Syahid Hasan Al-Banna) baru menyelesaikan manhaj dua tahapan pertama dan kwdua dari tujuh tahapan dakwah yg ada, yaitu tahapan Binaul Fardul Muslimin dan Binaul Baitil Muslimin.

7. Tahapan ketiga yaitu Irsyadul Mujtama’ sdh ada manhaj Rabtul ‘am (Bimbingan Sosial) tetapi msh blm sempurna.

8. Tahapan keempat yaitu Tahrirul Wathan sdh ada pemikiran dasaenya tetapi blm lengkapi pedoman kerjanya yg bisa menjadi rujukan bg para kader harokah di negara masing2. Padahal kader2 harokah dakwah sdh mulai memasuki tahapa keempat dan kelima dlm dekade ini.

9. Di Indonesia, harokah dakwah menetapkan ijtihad di tahapan tahrirul wathan dgn membuat partai politik (PKS) yg menempel strukturnya dgn harokah dakwah (Al-Hizbiy huwal jamaah dan al-jamaah hiyal hizb).

10. Problem besar muncul krn dinamika partai politik sangat besar krn agenda dan ruang kerjanya bersentuhan langsung dgn negara dan publik terbuka.

11. Sementara struktur harokah dakwah yg masih tertutup dan solid terjaga dgn prinsip komando kepemimpinan dan keanggotaan yg ketat.

12. Karena sistem organisasi partai melekat pada organisasi harokah maka iklim partai politik yg sangat dinamis dan penuh intrik kasar dan berbahaya sangat mengganggu bahkan mempengaruhi struktur harokah yg seharusnya iklimnya adem dan tenang.

13. Oleh karena itu melalui Mukernas PKS Bali awal Feb 2008 Ust Anis Matta(UAM) sbg anggota Majelis Syuro yg juga sekjen partai dakwah saat itu mengusulkan ide agar partai dakwah menjadi partai terbuka dimana struktur partai dipisahkan dgn struktur harokah dakwah.

14. Konsekuensinya kepemimpinan dan keanggotaan partai akan berbeda dgn kepemimpinan dan keanggotaan harokah dakwah.

15. Sehingga dinamika partai politik yg keras tidak akan mengganggu scr langsung pd iklim struktur harokah dakwah yg memang hrs tetap solid dan kuat.

16. Selain itu gagasan partai terbuka juga memberi peluang besar bagi partai dakwah bisa mengakses lapisan politik Indonesia yg lebih luas, yaitu kaum nasionalis yg mengisi 48% demografi politik Indonesia.

17. Selama 2 pemilu sebelumnya (1999 dan 2004) Partai Dakwah hy mampu mencapai kisaran maksimal hg 8% krn sifat partai yg tertutup mengikuti sistem harokah dakwah yg jg tertutup.

18. Tetapi gagasan UAM tersebut di tolak oleh sebagian besar pimpinan harokah dakwah saat itu krn alasan kekhawatiran organisasi partai politik tdk bisa dikendalikan jika berpisah dgn organisasi harokah dakwah.

19. Namun apa yg terjadi stlh Pemilu 2009 dan 2014 menjadi fakta bahwa dinamika parpol yg keras dan kasar akhirnya benar2 mengganggu kondisi organisasi harokah dakwah.

20. Kasus LHI yg terjadi sbg operasi politik lawan akhirnya juga menyeret pusaran pimpinan harokah dakwah kedalam situasi yg sulit.

21. Belum lagi hasil Pemilu 2009 dan 2014 semakin membuktikan bahwa akses partai dakwah mmg hy terbatas di caruk politik kanan (Islam ideologis) yg totalnya hy sekitar 16% yg juga diperebutkan parpol yg sejenis.

22. Dua persoalan diatas semakin menguatkan Narasi UAM untuk merubah sistem parpol dakwah menjadi lebih fleksibel agar bisa mengakses caruk politik Indonesia hg ke lapisan kanan-tengah (Islam-Nasionalis) dan tengah (Nasionalis Murni) yg mencapai 75% warna demografi politik Indonesia.

23. Tetapi dampak kasus LHI yg merupakan dampak dr sistem partai yg terkoneksi langsung ke sistem harokah membuat polarisasi pembelahan dalam kepemimpinan dan keanggotaan dlm struktur partai dan harokah di Indonesia.

24. Walaupun UAM berhasil menyelamatkan eksistensi PKS dr panggung politik Indonesia ttp dampak kasus LHI semakin memperbesar pembelahan polarisasi dlm kepemimpinan dan keanggotan organisasi keduanya.

25. Hasil Pemria Anggota Majelis Syuro (AMS) 2015 memetakan polarisasi pendukung sistem lama menguat dan melengserkan kekuatan UAM baik dlm struktur partai maupun harokah.

26. Pemecatan dgn dalih menjaga soliditas harokah yg berbasis pd idiom ketaatan dan ketsiqohan tanpa mengikuti aturan baku sistem organisasi (AD/ART) menjadi warna perjalanan partai dan harokah dakwah sepanjang thn 2016-2018.

27. Kepemimpinan “tangan besi” DPP yg sejatinya bukan manhaj harokah dakwah ini menyebabkan UAM memilih untuk berijtihad (krn mmg blm ada manhaj baku) untuk membuatkan organisasi politik dakwah baru yg lebih relevan dgn kondisi Indonesia untuk mewujudkan misi tahapan dakwah Tahrirul wathan, Islahul Hukumah, Iqomatud Daulah hingga Ustadziyatul Alam.

28. Berbarengan dgn itu Kondisi politik Nasional Indonesia yg jg memiliki problem de-islamisasi menjadi alasan penguat bagi UAM untuk segera mewujudkan gagasan besarnya mewujudkan partai dakwah yg bisa menembus caruk politik Indonesia yg lebih luas. Gagasan itu telah Beliau narasikan dlm buku Beliau “menuju Gelombang ke-3 Indonesia”.

29. Gagasan itu merupakan sebuah proposal “Arah Baru Indonesia” dlm manajemen Islam Politik yg kuat.

30. Arah Baru Indonesia bukan sj sebuah konsep menyelamatkan Indonesia sbg sebuah bangsa dan negara berdaulat tetapi juga akan membawa Indonesia mengambil peran global sebagai kekuatan ke-5 di dunia.

31. Dan cita2 itulah yg disebut Imam Syahid Hasan Al-Banna sbg Ustadziyatu Alam atau cita2 menjadikan idiologi Islam sebagai pembimbing peradaban dunia yg damai.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *