Perjalanan Ini

Perjalananku bersama jama’ah ini memang tidak seheroik para awwalun, yang ngaji saja harus sembunyi-sembunyi. Aku bergabung di era partai dimana semua sudah bebas beraktifitas, legal formal karena dilindungi undang-undang.

Aku juga bukan kader inti, sekedar pendukung yang ada atau tidak mungkin sama saja, karena kontribusi juga memang tidak seberapa.

Catatan ujian ketaatan dan ketsiqohanku pun biasa saja, aku bukan Almarhum Ustad NHT atau Ustad HM yang dengan ikhlas meninggalkan pekerjaannya sebagai abdi negara, atau Ustad MS yang ikhlas meninggalkan lingkungan benefitnya karena diminta mengurus partai, tidak, ujianku tidak seberat itu.

Tapi percayalah, aku mencintai jama’ah ini..dengan sepenuh hati. Sudah kuhabiskan lebih dari sepertiga usiaku bersamanya,

Selama itu aku sama sekali tidak pernah membantah apapun perintah dari murobbi, mulai dari urusan amanah organisasi sampai masalah pribadi.

Tahun 2013 lalu, aku tau LHI bersalah, tapi perintahnya adalah membela demi Izzah jama’ah, maka kulakukan ini dengan segenap kemampuan yang ku punya, walau tidak jarang berakhir cibiran, hinaan, menanggung malu, bermacam-macam. Itu tidak seberapa, dibanding para asatidz yang saat itu menjadi bemper jelang pemilu, harus kuat atau kita akan tersingkir.

Hingga tiba hari ini…

Walau hanya recehan tak berarti, tapi aku punya hati, punya perasaan, siapa yang tidak perih menyaksikan jama’ah diobok-obok sedemikian rupa? Katanya saudara tapi tak lagi bertegur sapa dengan ramah, memberi label pengkhianat, gila harta hingga dicap kafir. na’udzubillah.

Ketika ditanya “ini ada apa sebenarnya?”, Selalu dijawab “ini hanya peristiwa biasa”, duhai, mungkin ilmu kami tidak seberapa, tapi tentu saja tidak sebodoh itu. Kami punya akal sehat yang masih dapat dipakai berpikir.

Di satu tempat menegur agar tidak mengghibah personal kader, tapi di tempat lain kedapatan menyerang personal sebagai bahan pembenaran bila sudah kehabisan bahan menjawab kegelisahan para kader, kemana Bab ukhuwah? Bagaimana mungkin da’wah dibangun di atas fitnah & kebohongan?.

Kader lapis bawah mestinya tau apa yang sebenarnya terjadi, mereka bekerja dengan ikhlas, mengorbankan banyak hal Sementara proses pembersihan terus dilakukan para elit atas nama kepentingan da’wah, yang berbeda pendapat seketika dicap tak setia, Itukah yang disebut mencari berkah?

Mengarahkan jari telunjuk ke orang lain dengan tuduhan terlalu bawa perasaan, terlalu figuritas, tanpa mereka sadari tiga jari mengarah ke mereka sendiri. Ban buta.

Itulah yang membuat kesedihanku semakin mendalam. Menyaksikan sebagian kader membabi buta membela setiap keputusan pengurus pusat tanpa tapi. Seakan segelintir orang tersebut barisan yang tak bisa dan tak mungkin salah yang mesti selalu dibenarkan. Ya Allah… hampir-hampir imam jama’ah ini sudah jadi ILAH baru bagi sebagian kader. Kasarnya, rukun iman dipaksa bertambah dari yang enam menjadi tujuh tanpa disadari. Semoga Allah tidak lalaikan kita dalam ketidaksadaran yang berlarut.

Aku percaya, Allah yang akan menjaga Da’wah ini, Ia Maha Adil, tak pernah mengkotak-kotakkan amal hambaNya apalagi membedakan dengan label merah kuning hijau di langit yang biru hanya karena berbeda jama’ah tempat beramal.

Sejak awal tarbiyah, para Murobbi selalu menekankan bahwa Partai Politik ini hanyalah wasilah, hanya sarana. Dakwah akan tetap ada walau tanpa Parpol atau berbeda Parpol. Ini bab metode. “Karena wasilah itu bisa dari mana saja.”

Mungkin sudah saatnya pernyataan ini dibuktikan…

#Pamit
Semoga ukhuwah tetap terjaga.

(adN)

Samarinda, 1 Januari 2019 …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *