Pembocor rahasia

Rasulullah SAW pernah mengutus Ali bin Abi Thalib, Zubair dan Miqdad ke sebuah kebun di antara Makkah dan Madinah utk menyita surat dari seorang perempuan. Setelah didapatkan, surat tsb dibawa kepada Rasulullah SAW. Ternyata surat tsb ditulis oleh seorang sahabat pejuang perang Badar bernama Hatib bin Abi Balta’ah, yg ditujukan kpd orang musyrik Makkah. Di dalamnya ada bocoran rencana pembebasan kota Makkah oleh Rasulullah SAW.

“Apa ini wahai Hatib?!” tanya Rasulullah SAW.

“Jangan terburu-buru padaku wahai Rasulullah,” jawabnya. “Dulu aku adalah orang yang melekat dengan suku Quraisy. Tapi (sekarang) aku bukan bagian dari mereka. Di antara kaum muhajirin yang bersamamu ada yang punya kerabat di Makkah, yang menjaga keluarga dan harta mereka. Meskipun tdk punya hubungan nasab dg mereka, saya ingin membantu agar mereka memberi perlindungan kepada kerabatku. Aku melakukannya bukan karena kufur dan keluar dari Islam.”

Lalu Umar bin Khattab berkata: “Biarkan kupenggal leher orang ini wahai Rasulullah.”

Ucapan Umar tersebut muncul lantaran tindakan Hatib memang sudah sangat membahayakan.

Namun Rasulullah SAW memaafkan Hatib, lebih-lebih berkat perjuangannya dlm perang Badar.

Berkenaan dengan kisah Hatib tersebut, maka Allah SWT menurunkan ayat yang melarang orang-orang beriman untuk menjadikan musuh-musuh agama sebagai teman setia, terutama penduduk Makkah yg saat itu masih musyrik.

“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menjadikan musuh-Ku dan musuhmu sebagai teman setia….” (QS Al Mumtahanah: 1)

Larangan tsb beralasan:

– mereka kaum ingkar

– mereka telah mengusir Rasul dan kaum muhajirin dari Makkah hanya karena perbedaan agama

– jika mereka menangkap orang beriman, maka mereka akan menyakiti dan menyiksanya

– pertemanan setia dg orang kafir yg memusuhi agama (sekalipun itu kerabat) tdk akan berguna di hari kiamat.

“Karib kerabat dan anak-anakmu sekali-kali tidak bermanfaat bagimu di hari kiamat. Dia akan (Allah) memisahkan di antara kamu. Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan” (QS Al Mumtahanah: 3).

والله أعلم بالصواب
_______
*Kajian Tafsir Shubuh Mesjid Al Magfiroh Vila Mutiara Serpong
**Referensi:
a). Tafsir Al Wasith, karya Syekh Muhammad Sayyid Thanthawi,
b). Tafsir Ibnu Katsir

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *