Menalar Konflik Sang Sabit Kembar

Dengungnya “dakwah” adalah “panglima” pada sebagian kita, bagian dari rona kehidupan, saat terlelap maupun terjaga, saat tegap menapaki jalan maupun sekejap rehat bersandar ria,
Namun, dengungnya kini menjadi sunyi, sunyi dalam gelapnya loyalitas termakna

Dengungnya, prajurit prajuritnya terpatri nilai ketundukan, kepatuhan hanya atas asas aqidah dan fikrah sahaja. Bernalar sebelum bertindak, beranalisa pada tiap tiap imaji informasi yang datang, hingga tenang memikul amal-amal harian.

Terkisah Sang Ibrahim datangi para penyembah bintang, rembulan, dan matahari, sejatinya dia tidak sedang mencari Tuhan. Iman sudah terpatri di dadanya, tapi dia juangkan apa yang diyakininya, hingga sakinah datang dalam dadanya.

Terkisah Sang Ibrahim membilah tubuh burung, memisahkannya di atas empat puncak bukit, dia tidak sedang meragukan ketauhidannya. Dia sudah meyakini bahwa Allâh yang menghidupkan dan mematikan, tapi dia menginginginkan sakinah atasnya

“Belum yakinkah kamu?” Tanya Allâh. Ibrahim pun menjawab, “Aku telah meyakininya, akan tetapi agar hatiku tetap mantap (dengan imanku),…”

Ketika hari orang-orang memperjuangkan apa yang dia yakini hingga capai ketenangan, bergumul atas informasi, mencerna, menalar, menarik apa yang gelap menuju terang, kenapa muncul curiga ?

Ketika hari dimana para prajurit dipertanyakan afiliasinya, dicurigai tak lagi loyal pada madrasahnya, disematkan padanya jubah khianat, hingga hati dan dada makin sesak gelisah, tak lagi menemui sakinahnya

Ketika hari madrasah dakwah dibelah. Bulan yang dulu purnama kini terbelah dua; Sabit kembar yang saling membelakangi. Kini reka menebak, ada yang sengaja membilah para prajurit itu, agar saling tajam membelakangi, saling benci, saling cibir berluka menganga dalam dada.

Dulu kala Rasul dilempari batu, dia tak lantas balas melemparnya. Kala Rasulullah diludahi berkali-kali dari atas rumah pada jalan yang biasa ia lewati, justru dialah yang pertama kali menjenguk peludah itu saat sakitnya. Hari ini, apa kabarnya akhlak para prajurit itu, bagaimana kabarnya, konon merekalah pemilik tunggal madrasah dakwah pada Sang Sabit Kembar ?

Enam belas tahun sudah terlewati -sejak pertama kali cengkrama bersama orang-orang yang menisbatkan diri sebagai kader hizb dakwah- mengamati, telah terlewati begitu banyak friksi, gesekan, konflik, perbedaan cara pandang terhadap islam hingga negara, tapi pengelolaannya tidak semenarik belakangan ini

Pengelolaan konflik di antara dua bulan sabit yang saling membelakangi, menarik untuk dianalisis, menarik untuk dipelajari lebih dalam, agar hati tenang, kepada sabit mana hati harus dilabuhkan.

Sampai pada satu simpulan, kenapa sikap mereka yang merasa masih di dalam, merasa menghadap ke kanan, begitu tidak bijak, kepada pihak yang berseberangan dengan mereka, dengan yang dianggap keluar, dianggap menghadap ke kiri, bahkan sematan dianggap menghianati janji

Jam terbang dalam mengelola konflik-konflik yang sebelumnya, kenapa tak lagi didaya gunakan ? Dulu, bisa dengan mudah menerapkan dua dari sepuluh Kaidah Dakwah karya Jum’ah Amin Abdul Aziz, bahwa dakwah itu (1) membesarkan hati sebelum memberi ancaman dan (2) memahamkan bukan mendikte

Kenapa konflik dikelola dengan ancaman-ancaman ? Bahwa jika kamu tak mau begini, kamu pergi saja, kami Tak Butuh !

Kenapa madrasah dikelola dengan dikte-dikte? Hingga para prajurit, tak lagi memiliki ruang bertanya lebih dalam padahal ingin paham. Sudah kamu diam saja! Taat dan tsiqohlah, permasalahan ini sudah ada yang mengurusnya, kamu fokus saja pada target dua belas persen, sudah nembung berapa tetangga agar mau milih kita ?

Seperti itukah? Padahal mereka, yang dianggap menyeberang hingga disebut gerbong penghianat, hanyalah orang-orang yang sedang memperjuangkan apa yang diyakininya, bahwa, kelompok ini baik, tapi hatinya belum tenang

Maka, mereka bertanya, mereka mencari tahu. Seperti Ibrahim saat mendatangi bintang, bulan dan matahari. Seperti Ibrahim saat membilah anggota tubuh burung dan meletakkan potongannya di atas empat bukit yang berbeda. Tapi realitasnya berada pada zaman, kenapa tenangnya hati dipaksakan dengan dikte dan ancaman ?

Dulu, dalam pertemuan-pertemuan pekanan didapati pengajaran tentang bagaimana mengelola perbedaan; (i) Kita bekerjasama pada hal-hal yang disepakati dan saling menghormati pada perkara-perkara yang tidak disepakati, (ii) Jangan musuhi mereka, tapi dekati, kalaulah mereka tidak berhasil kita dakwahi, barangkali dari tulang sulbi (keturunan) mereka, kelak, akan menerima dakwah kita. Kenapa pada Sang Kejora Merah tidak bisa seindah itu sikapnya? Hanya ada cibiran, cacian, tiap hari, bicarakan di tiap-tiap lingkaran

Jikalau Sang Kejora dihakimi lahir atas perasaan sakit hati orang-orang yang tidak bisa bertahan kemudian menyerang dari dalam, menghancurkan pelan-pelan, mengembuskan bisik-bisik penghianatan, kenapa tak mengambil hikmah dari telur ayam?

Telur ayam yang sedang dierami induknya, mana yang lebih menjanjikan kehidupan baru, hentakan dari luar atau tekanan dari dalam ?

Telur menetas dan melahirkan kehidupan baru, adalah bersebab ada yang sedang bergerak-gerak dalam diam, seekor anak ayam sedang membuat perlawanan, memecahkan cangkang dari dalam. Bayangkan jika dipecahkan dari luar, tentu tidak bagus hasilnya

Kenapa konflik tak dicari solusinya dengan lebih bijak lagi? Sampai kapan energi dihabiskan, untuk sekadar membincangnya dalam pekan-pekan sakral, grup-grup WhatsApp dan sosial media lainnya, bahwa Sang sabit kembar merasa tak lagi membutuhkan Sang Kejora, adakah sudah hadirnya jumawa pada dada (?)

Semoga Lesatan Sang Kejora menjadi Cambuk Nalar Sang Sabit kembar, Semoga kelak dua Saudara ini benar benar membesar bergandeng tangan hingga Syurga Nya.

Semoga Allâh himpun, orang-orang yang dalam hatinya, menjadikan dakwah dan fikrah sebagai panglimanya, hingga kelak berjumpa di surga

Jangan Lupa Bahagia !
Ayo Kobarkan Semangat Indonesia !

Mukhlash Shidq
1 Januari 2019

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *